Uncategorized

Daftar 3 Game Paling Buruk yang Pernah Dirilis EA ke Publik

Electronic Arts atau EA beberapa waktu silam sempat dinobatkan menjadi korporasi paling jelek di Amerika Serikat. Bahkan predikat negatif tersebut diraih EA selama dua tahun secara berturut-turut. Tentu pencapaian itu bukanlah sebuah titel yang layak dibanggakan maupun dipestakan oleh siapapun. Sematan predikat sebagai perusahaan terburuk tersebut disematkan tentu bukan tanpa argumen yang jelas. EA dilaporkan menerapkan serangkaian regulasi yang dinilai sangat merugikan para gamer yang berstatus sebagai konsumen utama mereka. Banderol harga setiap game dipatok relatif terlampau tinggi tanpa disertai kehadiran dukungan teknis yang layak. Tidak sedikit dari katalog permainan yang mereka lempar ke pasaran dinilai sama sekali gagal memenuhi standar mutu yang didambakan komunitas pemain. Munculnya gelombang pemutusan hubungan kerja besar-besaran terhadap sejumlah studio pengembang yang dicintai publik pecinta game kian memperkeruh rekam jejak kelam milik EA.

Kenyataan tersebut jelas amat disesalkan banyak pihak, mengingat raihan predikat beruntun itu seakan memperlihatkan bahwa korporasi penerbit raksasa ini enggan belajar dari teguran keras penghargaan memalukan yang diperoleh pada periode silam. Di luar polemik perusahaan tersebut, rangkuman ulasan ini akan memaparkan deretan rilisan permainan terburuk yang sempat dihadirkan oleh bendera EA. Simak beberapa judul di antaranya berikut ini:

Mass Effect 3 dipasarkan secara resmi sebagai penutup dari saga panjang petualangan trilogi Commander Shepard. Menilai dari aspek visual grafika, karya ini dapat diakui tidak tertinggal mutunya apabila disandingkan dengan sepasang instalasi pendahulunya. Desain struktur arsitektur dunia virtual dirancang amat rapi sekaligus memukau. Kualitas animasi pergerakan tokoh-tokohnya juga tersaji cukup lentur dan halus. Sayangnya, masih ditemui sejumlah manuver animasi kaku yang bekerja kurang optimal. Pada beberapa sudut interior ruangan maupun kawasan eksterior luar, lingkungan masih terasa lowong tanpa dekorasi berarti. Puncak kekecewaan mendalam pada karya EA ini terletak pada babak konklusi akhir cerita yang memicu ledakan kontroversi masif di ruang komunitas penggemar. Seluruh alur sebetulnya meluncur mulus sejak prolog pembuka hingga bagian pertengahan babak. Namun saat narasi menginjak segmen pamungkas, terjadi kemerosotan kualitas penceritaan yang drastis, terutama bila dibanding-bandingkan terhadap Mass Effect pertama dan sekuel keduanya.

Momen peluncuran judul SimCity 2013 layak diklasifikasikan sebagai malapetaka besar bagi rekam jejak EA. Penyebab utamanya bertumpu pada kebijakan mewajibkan sistem sambungan daring penuh tanpa dibarengi infrastruktur pusat server yang tangguh. Server milik EA terbukti kolaps dan tak berdaya menampung lonjakan kuantitas pemain yang berbondong-bondong masuk secara bersamaan. Problemnya tidak terbatas sampai di situ saja. SimCity 2013 dicap sebagai salah satu produksi terjelek milik EA lantaran performa serta isi gameplay yang sangat mengecewakan. Banyak penikmat setia yang menyatakan keputusasaan mereka.

Sorotan komplain lain yang dilontarkan audiens kepada EA bersumber dari kehadiran unsur tokoh LGBT atau Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender di dalam judul ciptaannya, semisal The Sims 4. Kendati demikian, sebenarnya tidak terdapat aturan formal mengenai figur LGBT di tubuh perusahaan EA. Berkaitan dengan perdebatan tersebut, perwakilan EA menegaskan keengganan mereka untuk mundur sekadar menghindari titel terburuk bila alasannya semata-mata dipicu oleh representasi tokoh LGBT.

Demikianlah serangkaian judul permainan terburuk yang pernah digarap oleh kubu EA. Menanggapi sematan gelar memalukan yang sempat dipikulnya, pihak EA sempat menyampaikan komitmen untuk berbenah diri sekaligus bertekad tidak terperosok ke dalam lubang keteledoran serupa. EA berjanji bakal berupaya menyimak seluruh masukan dari pengguna setia dan menjauhi pengambilan keputusan yang memicu antipati publik.